Sebuah perjalanan menuju Padang seminggu yang lalu membawa keluarga kecil saya dalam sebuah odise lebaran yang penuh dengan kenangan. Namun, tahun ini, lebaran terasa berbeda. Kehilangan dua sosok yang sangat berharga dalam hidup kami, almarhumah mertua dan almarhum abang ipar, meninggalkan rasa kekosongan yang tak terukur.
Kedua kepergian tersebut datang begitu mendadak, hampir tidak terpercaya. Ibunda istri saya meninggal ketika kami sedang berada di Sumatra Barat, dan hanya dalam jarak lima hari berikutnya, kabar duka dari Jakarta datang mengenai kepergian abang ipar saya. Saat itu, rasanya seperti sedang terjebak dalam mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Bahkan sekarang, saya masih berharap bahwa semuanya hanyalah ilusi.
Lebaran tahun ini, terasa sunyi tanpa kehadiran mereka. Rendang terenak yang selalu disajikan oleh mertua saya, serta kehadiran abang ipar yang selalu menjadi sosok andalan dalam setiap acara keluarga, kini hanya tinggal kenangan. Pasca kepergian abang ipar, pertemuan keluarga menjadi semakin jarang terjadi.
Meskipun hati kami terasa hampa, kami mencoba untuk menerima kenyataan ini dengan ikhlas. Mengapa keduanya dipanggil dalam waktu yang hampir bersamaan, hanya Tuhan yang mengetahui. Sebagai manusia, kami hanya bisa mendoakan agar keduanya diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya.
Saat malam takbir menjelang, hujan mengiringi langkah-langkah menuju hari kemenangan. Meskipun tidak begitu deras, tetesan hujan yang turun sejak sore hingga malam ini seolah mencerminkan kesedihan yang mendalam dalam hati kami. Kami berharap bahwa besok akan menjadi hari yang penuh berkah bagi kami semua, meskipun kekosongan yang dirasakan masih menghantui.
0 comments:
Posting Komentar